Rabu, 17 Juni 2020

Langkah Menyiasati Belajar dalam Situasi Pandemi

Proses belajar merupakanan upaya sadar yang kita lakukan untuk pengembangan diri. Pengembangan yang kita maksudkan adalah aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap. Ketika aspek ini memang merupakan pilar dasar pendidikan dan pembelajaran. Hal ini karena kebutuhan dasar kehidupan kita adalah tiga aspek tersebut. Setiap orang yang ingin menghadapi dan menjalani kehidipan, maka di dalam dirinya harus ada 3 (tiga) kemampuan dasar tersebut. Pengetahuan, keterampilan, dan sikap kita haruslah mumpuni agar tidak kesulitan hidup. 
Untuk mendapatkan hal tersebut, maka proses pendidikan dan pembelajaran menjadi tuntutan yang tidak dapat kita abaikan. Sementara proses pendidikan dapat kita lakukan dalam 3 (tiga) proses, yaitu informal, formal, dan nonformal. Kita tidak dapat mengabaikan salah satu. dari ketiga proses tersebut. Bahkan, dapat. kitaykatakan bahwa ketiga proses tersebut berlangsung sinergis dan saling melengkapi. 
Proses pendidikan dan pembelajaran yang selama ini kita terapkan adalah dengan proses langsung, yaitu proses yang dilakukan dengan kegiatan tatap muka. Guru dan siswa bergiat bersama sebagai pendidik dan peserta didik. Guru berperan sebagai narasumber dan fasilitator serta pembimbing siswa sehingga mampu mencapai kemampuan yang dibutuhkan. Sementara itu, siswa adalah subyek belajar yang mengikuti proses untuk meningkatkan kemampuan dirinya. Guru dan siswa bergiat bersama dalam proses. 
Tetapi, pada triwulan terakhir ini, situasi sangat berbeda. Kebiasaan berproses secara langsung harus dibatasi karena adanya pandemi yang menyerang masyarakat dunia. Proses pendidikan dan pembelajaran secara langsung dianggap sangat riskan sehingga dilarang. untuk dilaksanakan. Kegiatan-kegiatan yang memungkinkan berkumpulnya banyak orang dibatasi, bahkan dilarang. Termasuk dalam hal ini adalah proses yang dilaksanakan di sekolah. Sekolah-sekolah yang selama ini menjadi tempat berkumpulnya guru dan siswa dianggap sangat berbahaya sebab dapat menjadi tempat penularan sakit, yang selanjutnya kita sebut saja covid 19. Akibatnya, sekolah sepi dan guru siswa harus melaksanakan proses melalui daring. Ini merupakan langkah cantik menyiasati situasi dan kondisi yang terjadi di masyarakat dan di luar perhitungan kita. 

Pembelajaran Mandiri

Situasi dan kondisi yang sekarang terjadi bukanlah keinginan, bahkan sama sekali tidak menginginkan. Situasi dan kondisi yang terjadi merupakan bencana internasional. Semua negara mengalami hal yang sama, terpapar virus covid 19, yang penularannya begitu cepat dan berbahaya. Proses penularan dapat terjadi akibat komunikasi dan interaksi antar personal. Komunikasi dan interaksi ini dapat terjadi secara bebas di tempat umum atau tempat di mana banyak orang berkumpul, salah satunya sekolah. Oleh karena itu, pembatasan proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah sangatlah tepat. 
Pembatasan pembelajaran di sekolah, yang selama ini merupakan langkah tepat agar proses perpindahan pengetahuan, keterampilan, dan nilai sikap pada akhirnya memang membawa dampak pada proses itu sendiri. Dampak yang paling terasa adalah pertumbuhan nilai kemandirian siswa. Hal ini karena selama. pembatasan, interaksi guru. dan siswa. sangat terbatas. Mereka yang selama ini terbiasa bersama, sehingga saat mengalami kesulitan dapat langsung bertanya pada guru dan mendapatkan jawaban yang diinginkan. Pada situasi terbatas, mereka tidak dapat melakukannya. Mereka dapat saja bertanya kepada guru, misal melalui grup. media sosial, tetapi jawaban yang didapat. tidak sepuas jika dijawab langsung. Oleh karena itu, siswa harus dapat belajar mandiri. 
Pada proses belajar mandiri ini, guru memberikan pendampingan dari jau dan tidak langsung bertatap muka. Mereka berkomunikasi melalui alat produk teknologi, misalnya telepon genggam. Pada sisi yang lain, telepon genggam tersebut dapat dipergunakan sebagai. sumber belajar. Pada era teknologi informatika yang berkembang sedemikian pesatnya, informasi dapat kita peroleh dengan mudah. 
Dengan memanfaatkan produk teknologi informatika inilah, maka kita dapat menemukan dan memecahkan kesulitan. Siswa dituntut untuk dapat secara mandiri menemukan obyek belajar yang harus diselesaikannya secara mandiri. Mereka. tidak dapat bermalas-malasan untuk dapat memperoleh informasi, melainkan harus aktif bergerak, mencari lantas mempelajarinya. Jika mereka mengalami kesulitan, maka guru siap membantu. menjelaskan kesulitan mereka. 
Peristiwa, wabah pandemi ini memang ada dampak negatif dan positif. Pada posisi negatif, proses belajar tidak dapat dilakukan secara langsung, melainkan dengan. mempergunakan produk teknologi, khususnya. teknologi informatika. 
Pada pola pembelajaran mandiri ini bukan berarti guru lepas kewajiban dan tanggungjawab. Justru para guru berusaha sekuat tenaga untuk memberikan pelayanan yang proporsional. Pelayanan proporsional adalah pelayanan yang memungkinkan semua siswa dapat mengikuti proses dengan sebaik-baiknya, tidak ada yang mengalami kesulitan dalam prosesnya. Hal ini karena kondisi siswa. yang tidak sama, khususnya kondisi ekonomi keluarga. 
Kondisi ini sebenarnya bukanlah masalah. yang urgen sebab justru menyadarkan. semua pihak bahwa proses pendidikan memang mahal. Apalagi dengan pola belajar mandiri, siswa harus menyediakan sarana sebaik-sebaiknya. Tetapi, Pendidikan mandiri sangat dibutuhkan di jaman ini agar siswa tidak ketergantungan dengan orang lain. Kita sangat. menyadari bahwa kehidupan sekarang sudah sangat berbeda dengan jaman dahulu. Tingkat tanggungjawab terhadap kewajiban sudah mengalami pelunturan sehingga pola hidup seenaknya menjadi kebiasaan. Rasa tanggungjawab yang. jaman dahulu sangat dibanggakan,  sekaramg ini mengalami kemerosotan. Dan, pada masa pandemi, karakter itu dikondisikan atau. dipaksakan untuk diterapkan. Dengan demikian, maka siswa dapat. lebih bertanggungjawab terhadap tugas dan kewajibannya. Belajar secara mandiri mengembangkan sikap bertanggungjawab terhadap kewajiban belajar. 

Pembelajaran Virtual

Pembelajaran virtual menjadi langkah penting proses di masa pandemi convid 19. Pembelajaran ini mengoptimalkan peranan virtual untuk prosesnya. Dalam. hal ini, penguasaan teknologi virtual menjadi prasyarat keberhasilannya. Tanpa penguasaan virtual, tentunya kita tidak dapat ikut bergabung dalam kegiatan. 
Guru dan siswa berinteraksi aktif melalui jaringan internet aktif. Mereka harus tersambung dalam jaringan internet sebab aplikasi virtual membutuhkan hal tersebut. 
Tentunya, persoalan penguasaan virtual bukan sesuatu yang sulit sebab perkembangan pola kehidupan kita memang menuntut hal tersebut. Pola kehidupan berbasis teknologi membutuhkan orang-orang yang melek teknologi. Kemampuan ini menjadi tangan dan mata menghadapi dan menjalani kehidupan. Tanpa kemampuan tersebut, maka hidup kita terhambat. 
Bagi insan pendidikan, penguasaan teknologi informasi, termasuk dalam hal ini teknologi virtual bukan hal yang aneh. Setiap saat kegiatan pembelajaran sudah menerapkan teknologi. 
Oleh karena itu, dalam menghadapi situasi pandemi, dimana pembelajaran langsung dianggap sangat riskan untuk penularan sakit, maka model. pembelajaran virtual menjadi pilihan. Teknologi telepon genggam ataupun teknologi komputer dan jaringan membuka peluang pengembangan tersebut. 
 
Bagaimana selanjutnya?? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar